Parigi Moutong, redaksirakyat.com – Dari balik sejuknya perbukitan Desa Santigi, Kecamatan Ongka Malino, Kanupaten Parigi Moutong, berdiri sebuah arena Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang megah.
Siapa sangka, kemegahan itu lahir dari semangat gotong royong lintas agama yang menjadikan perbedaan bukan sekat, melainkan kekuatan.
Desa Santigi mendapat kehormatan menjadi tuan rumah MTQ ke-XI tingkat Kecamatan Ongka Malino, yang akan berlangsung pada 25 Juli hingga 1 Agustus 2026.
Menjelang pelaksanaan, arena utama yang dibangun di halaman SMP Satap Negeri 2 Bolano Lambunu sukses mencuri perhatian.
Kepala Desa Santigi, Ahmad Syafii, mengaku tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya saat melihat hasil akhir pembangunan arena tersebut.
“Saya tidak menyangka arena MTQ bisa semewah ini. Padahal saat rapat, saya hanya berharap dibuat sederhana saja,” ujarnya.
Di balik kemegahan itu, tersimpan kisah yang menghangatkan hati. Ahmad mengungkapkan, Desa Santigi sebenarnya beberapa kali menolak saat ditunjuk menjadi calon tuan rumah. Selain berada di wilayah pegunungan, komposisi penduduk desa juga didominasi warga nonmuslim.
Dari total 465 kepala keluarga, sekitar 40 persen merupakan warga muslim. Namun, keraguan itu justru dipatahkan oleh dukungan masyarakat lintas agama.Menurut Ahmad, warga dari agama lain datang dan meminta agar MTQ tetap digelar di Desa Santigi.
Mereka bahkan menyatakan siap membantu dalam segala hal, mulai dari tenaga hingga kebutuhan lainnya demi menyukseskan kegiatan tersebut. Semangat kebersamaan itu bukan sekadar ucapan.
Para pendeta ikut terjun langsung dalam pembangunan arena utama. Ada yang memanjat rangka untuk mengikat atap, ada pula yang mengangkut kayu bersama warga lainnya.
“Inilah bukti tingginya toleransi di Santigi,” tutur Ahmad dengan bangga.
Kebersamaan juga terlihat dari peran kaum ibu. Selama dua pekan terakhir, ibu-ibu dari agama lain menggelar bazar kue di sekitar lokasi MTQ. Mereka menjual aneka makanan kepada para pengendara yang melintas sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan acara.
“Alhamdulillah hasilnya lebih dari satu juta rupiah,” kata Ahmad.
Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kecamatan Ongka Malino, Aksan Tandiwali, turut memberikan apresiasi atas semangat masyarakat Desa Santigi.
Menurutnya, arena MTQ yang dibangun warga bahkan tampil lebih megah dari yang pernah ia lihat pada pelaksanaan MTQ tingkat kabupaten.
“Jujur, kalau melihat arenanya, ini tidak kalah, bahkan bisa dibilang lebih bagus dibanding arena MTQ kabupaten,” ungkap Aksan.
Di Desa Santigi, MTQ bukan hanya tentang perlombaan membaca Al-Qur’an. Lebih dari itu, perhelatan ini menjadi panggung yang memperlihatkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan.
Toleransi hidup dalam kerja bersama, dari tangan-tangan yang saling membantu, dan dalam hati Masyarakat yang percaya, bahwa perbedaan adalah anugerah yang harus dijaga bersama. (hcb)








