Parigi Moutong, redaksirakyat.com – Penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (Mtq) XI Tingkat Kecamatan Ongka Malino, di Desa Santigi, Sabtu (01/08/2026) malam, bukan hanya menandai berakhirnya perlombaan tilawah.
Perhelatan itu juga meninggalkan kisah tentang eratnya persaudaraan lintas iman yang telah terjalin selama persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.
Wakil Bupati Parigi Moutong Abdul Sahid secara resmi menutup Mtq yang selama lima hari berlangsung di Desa Santigi.Saat memasuki kawasan arena, Wabup Abdul Sahid mengaku terkesan dengan kemegahan pelaksanaan, sampai pada dekorasi panggung utama, setara Mtq Kabupaten.
“Subhanallah, ini MTQ kecamatan rasa kabupaten,” decak kagum Abdul Sahid saat memasuki pintu gerbang arena Mtq Santigi.
Di balik kemeriahan penutupan, suasana haru justru dirasakan sejumlah tokoh umat Kristen di Desa Santigi. Berakhirnya MTQ membuat mereka merasa kehilangan momentum kebersamaan yang selama ini dibangun tanpa memandang perbedaan Agama.
Tokoh Kristen Katolik Santigi, Mahendra Emor, mengaku ikut merasakan kebanggaan atas suksesnya penyelenggaraan Mtq. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tersebut merupakan kebahagiaan seluruh warga Desa.
“Secara umum, ini kegiatan kita semua yang ada di Santigi. Acara ini sukses, berarti semua unat agama yang ada di Santigi turut gembira,” ucapnya lirih.
Mahendra mengisahkan, selama sekitar dua bulan terakhir dirinya bersama Warga lainnya ikut terlibat dalam pembangunan fisik arena Mtq. Bahkan setiap Minggu usai beribadah, dirinya bersama jemaat kembali melanjutkan pekerjaan di lokasi.
“Kalo hari minggu, selesai ibadah, saya dan jemaat lainnya langsung ke arena melanjutkan apa yang di kerjakan Pak,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Pendeta Gereja Getsmani Santigi, Hermanto Kondiman. Dirinya menilai, pelaksanaan Mtq telah menjadi ruang untuk memperkuat persatuan Warga di tengah keberagaman.
“Mtq ini secara langsung memberikan semangat kepada kami untuk bersatu, bahu-membahu mensukseskan kegiatan ini. Sebagai agama sahabat, kami turut terpanggil dalam kegiatan religi ini,” Hermanto.
Desa Santigi sendiri merupakan desa dengan mayoritas penduduk beragama Kristen, yakni sekitar 60 persen dari 465 Kepala Keluarga. Meski demikian, semangat kebersamaan yang ditunjukkan selama penyelenggaraan Mtq menjadi gambaran kuatnya toleransi yang telah lama tumbuh di Desa paling utara Kecamatan Ongka Malino itu.
Pendeta Gereja Bukit Sion Santigi, Deivi Dalangi, mengaku akan merindukan suasana kebersamaan yang terbangun selama pelaksanaan Mtq.
“Kami bakal merindukan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti ini. Inilah indah toleransi di Desa kami Pak,” sebut Deivi.
Deivi juga mengenang keterlibatan dirinya bersama jemaat dalam mendukung kegiatan tersebut, termasuk membantu pelaksanaan bazar demi menyukseskan Mtq.
“Setiap ada waktu luang, saya ikut bergabung bersama ibu-ibu lain berjualan bazar kue di jalan-jalan pak. Dan itu akan kami ingat selamanya,” kenang Deivi.
Kisah dari Desa Santigi menunjukkan bahwa Mrq tidak hanya menjadi ajang syiar Islam, tetapi juga menghadirkan ruang kebersamaan yang mampu mempererat hubungan antarumat beragama.
Semangat gotong royong yang ditunjukkan Warga menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi persaudaraan dalam membangun Desa. (Hcb)












