Parigi Moutong, redaksirakyat.com – Fase pergeseran besar dengan Perkembangan terbaru menunjukkan Vietnam untuk sementara waktu menghentikan ekspor durian ke Tiongkok akibat pengetatan standar pengujian keamanan pangan.
Di saat yang sama, Thailand menghadapi kendala distribusi yang berdampak pada penurunan harga di tingkat petani serta pergeseran sebagian produksi ke durian beku.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pasar Tiongkok, di mana para pembeli kini mengambil posisi dominan dengan menahan harga dan memperketat seleksi kualitas.
Situasi ini menegaskan, bahwa pasar saat ini berada dalam kondisi buyer market, di mana hanya produk dengan kualitas tinggi dan konsistensi pasokan yang mampu bertahan.
Atas Kondisi itu, Ketua Kamar dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Parigi Moutong, Faradiba Zaenong mengatakan, bahwa seluruh pelaku usaha durian di Indonesia harus membaca situasi ini dengan serius dan penuh tanggung jawab. Karena hal itu juga, menjadi peringatan sekaligus peluang strategis bagi Indonesia.
“Ini bukan sekadar penurunan harga, tetapi ujian nyata terhadap kualitas, integritas, dan kesiapan kita memasuki pasar global,” katanya, Kamis (26/03/2026).
Dengan situasi itu, Faradiba turut mengingatkan, bahwa ancaman terbesar bukan hanya datang dari luar Negeri, namun juga dari praktik internal yang dapat merusak kepercayaan pasar.
“Saya ingatkan, praktik manipulasi kualitas, pencampuran buah yang tidak layak ekspor, serta ketidakkonsistenan pasokan harus dihentikan. Pasar global tidak bisa ditipu. Sekali kepercayaan hilang, maka peluang akan tertutup untuk semua,” tandasnya.
Lanjut Faradiba, situasi tersebut juga menjadi tekanan dan mampu membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih strategis sebagai pemasok alternatif di pasar Tiongkok. Namun, peluang ini hanya dapat dimanfaatkan apabila seluruh rantai pasok bergerak dengan standar yang sama, kualitas, disiplin, dan konsistensi.
Oleh sebab itu, Faradiba menegaskan kepada seluruh petani dan supplier durian di Parigi Moutong dan Sulawesi Tengah agar menjadikan momentum ini sebagai titik balik dalam meningkatkan standar industri.
Kemudian, seluruh pelaku usaha diharapkan mampu menjaga kualitas tanpa kompromi, dengan menerapkan standar panen dan sortir yang baik, serta membangun komitmen jangka panjang dalam menjaga kepercayaan pasar.
“Lebih baik tidak mengirim produk, daripada mengirim dan merusak nama Daerah. Kepercayaan adalah modal utama dalam perdagangan global,” tegasnya.
Momentum ini harus dimanfaatkan dengan keseriusan dan kesiapan bersama.
“Pasar tidak menunggu yang siap nanti. Pasar hanya memberi ruang kepada mereka yang siap hari ini. Ini saatnya Parigi Moutong dan Sulawesi Tengah membuktikan diri sebagai bagian dari pemain utama durian dunia,” pungkasnya. (Ami)












