Parigi Moutong, redaksirakyat.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Parigi Moutong, menyoroti euforia Durian yang dinilai belum memberikan dampak signifikan ekonomi ke Daerah, sehingga melupakan komoditas selama ini sebagai penghasil Pendapata Asli Daerah (PAD).
Anggota DPRD Parigi Moutong, Fraksi PKS, Muhammad Basuki mengatakan, dengan kondisi saat ini mestinya Pemerintah Daerah (Pemda) perlu melakukan evaluasi terhadap sejumlah sektor yang mengalami penurunan, termasuk usaha yang seharusnya memberikan kontribusi terhadap PAD.
“Alhamdulillah, kita masih merasakan euforia dengan durian. Namun ini juga perlu menjadi bahan evaluasi, karena ada beberapa komoditas kita yang saat ini mengalami penurunan cukup tajam, termasuk usaha-usaha yang seharusnya menghasilkan PAD dari dinas terkait,” kata Basuki, saat sidang Paripurna hasil Laporan Panja, Selasa (10/03/2026).
Basuki mengingatkan, bahwa Parigi Moutong selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung Beras di Sulawesi Tengah. Satus tersebut, mestinya harus terus dipertahankan melalui program dan kebijakan yang nyata.
“Parigi Moutong ini adalah lumbung beras untuk Sulawesi Tengah. Dulu bahkan pernah ada Presiden yang datang. Pada masa kepemimpinan sebelumnya juga pernah ada kunjungan. Mudah-mudahan pada periode kepemimpinan sekarang hal itu bisa diteruskan kembali,” sebutnya.
Menurut Basuki, kondisi kekeringan yang berdampak pada lahan pertanian, khususnya di Wilayah Pantai Timur, sejauh ini belum terlihat langkah konkret dari Dinas terkait dalam menghadapi situasi tersebut.
“Kita sedang mengalami kekeringan, tetapi sampai sekarang belum terlihat rencana apa yang akan dilakukan. Apakah kita hanya akan berpangku tangan menghadapi keadaan ini? Di ratusan hektar lahan di Pantai Timur Masyarakat tidak bisa lagi bersawah, tetapi dari Dinas terkait seolah tidak ada tindakan yang jelas,” tandasnya.
Oleh sebab itu, penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan, terutama pada komoditas utama seperti beras dan kelapa, untuk didorong peningkatan produktivitasnya.
“Saat ini produksi beras di Parigi Moutong rata-rata hanya sekitar 3 sampai 5 ton per hektar. Saya pernah berkunjung ke Sidrap, dan di sana produksi bisa mencapai 10 ton per hektar. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari kita, sehingga sebenarnya kita bisa belajar dari mereka,” pintanya.
Basuki menambahkan, Pemda di Sidrap bahkan berani membeli gabah Petani dengan harga di atas harga Nasional sekitar Rp5.300 per kilogram.
“Hal-hal positif seperti ini seharusnya bisa kita pelajari dan terapkan di Daerah kita,” pungkasnya. (Ami)












